Well, gue nggak tau konsep awal dan motivasi postingan ini apa. Tapi dari kemaren pengen banget nulis di blog ini soal teman-teman kantorku. Udah empat tahun bergelut bersama para atlet-atlet ini. Gimana sih rasanya bertemen sama atlet? Ini adalah FAQ (frequently asked question) yang jawabannya musti eike tempel di jidat supaya orang ngga nanya melulu.
Jawabannya : Mereka sama aja kayak manusia biasa.
Sama aja kayak temen-temen yeiy semua di sekolah, di kantor, di tempat nongkrong, etc etc. Mereka sifatnya beragam, ada yang cool, ada yang bawel, ada yang introvert, extrovert, ada yang dermawan, ada yang pelit, ada yang higienis, ada yang jorok, ya seperti layaknya manusia-manusia lainnya di luar sana.
Awalnya sih jujur aja mereka pada kaku sama eike, apalagi titelnya wartawan. Dari beberapa pengakuan atlet, mereka trauma karena apa yang mereka sampaikan biasanya beda sama apa yang muncul di media. Mereka nggak gitu aware juga, apa sih pentingnya kalau ngasih komentar ke media soal penampilan gue?
Well, baiklah. Ini adalah tugas berat juga buat eike. Tantangan. Gimana caranya gain their trust so I can do my work effectively.
Seiring berjalannya waktu, kami saling mengenal satu sama lain. Eke tau siapa mereka dan mereka tau siapa eike dan apa fungsi eike di sekitar mereka. Mereka mulai ngerti kalau ekspose media baik untuk karir mereka khususnya dan perkembangan bulu tangkis pada umumnya.
Sekarang mereka juga udah mulai terbuka sama eike. Sekarang mereka udah percaya untuk sharing hal-hal yang sifatnya off the record. Artinya nggak perlu disebarkan ke khalayak ramai.
Eike tau siapa yang berantem sama siapa, siapa yang lagi kesel sama partner mainnya, siapa yang lagi dihajar pelatihnya, siapa yang lagi mau dipisahin pasangannya, siapa yang udah mau berenti jadi pemain, siapa yang lagi krisis sama pacarnya, siapa yang ternyata dulu pernah pacaran sama siapa dan ngga ada yang tau kecuali mereka berdua, siapa yang aneh-aneh kelakuannya, siapa yang jarang mandi, siapa yang didepan kayak baik-baik aja padahal dibelakang saingannya gila-gilaan, dan masih banyak lagi.
Bahkan eike juga tau apakah atlet lagi cedera parah yang kemungkinan besoknya nggak bisa main maksimal, atau bahkan ada yang WO. Nggak sedikit juga yang cerita soal pribadi mulai dari pacar, keluarga, adek, kakak, nenek, kakek, semuanya. Nggak semuanya cerita bahagia, banyak juga cerita yang bikin nangis bareng saking sedihnya.
Dekat dengan mereka bikin eike punya segudang cerita yang bisa di-share mungkin lewat twitter, facebook, atau bahkan blog ini. Nggak munafik juga, jadi banyak orang yang kenal eike karena sering ceriwisan di socmed soal atlet-atlet (cie, situ oke?!). TETAPI, begitu banyak juga hal yang cuma bisa disimpen dalam hati, dikunci dan kuncinya buang ke sumur. I dont find something useful to brag about athlete's personal life and privacy in socmed.
Kepercayaan seperti ini nggak diraih dalam waktu semalam. Butuh waktu untuk mengenal mereka dan mendapatkan kepercayaan mereka. Trust is damn expensive man. Makanya, ngejaga kepercayaan mereka adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Sebagai pecinta bulu tangkis, tentunya banyak hal yang gue kepoin dari atlet-atlet ini. Dan sekarang hampir 100 persen kekepoan eike selama 15 tahun lalu udah terjawab. Apalagi kalo ngobrol sama Butet, begitu banyak hal off the record yang dia ceritain dan bikin gw kaget setengah mati sampe yang bikin berdecak kagum tapi berhubung dia bilang ga boleh kasi tau sapa-sapa yaudah disimpen sendiri ajah. Secara kalo ngobrol ama Butet tuh bahannya beraaaat! (Kecuali pas ngomongin LYD dan berakhir dengan keriangan gw dan keenegan dia).
Hasil ngepoin atlet ada yang jawabannya sesuai harapan, ada yang enggak. Well, this is real life, nothing is perfect. Don't be naive.
As a badminton addict, eike sering juga baca komen-komen orang tentang atlet-atlet di fordis yang sekarang udah menjamur. Kadang mau ketawa baca judgement-judgement sotoy membernya. Well, eike bukanlah orang yang paling deket sama atlet, tapi eike ngeliat sendiri fakta-fakta yang ada di depan mata yang sama sekali nggak sesuai dengan tuduhan-tuduhan orang.
Satu hal yang lucu adalah ketika seseorang ngejudge atlet-atlet yang habis kalah.
Seorang atlet yang kalah nggak dengan gampangnya keluar lapangan dan langsung balik ke hotel melakukan aktivitas seperti biasa. Well, pertama dia harus menghadapi eike dulu, hahahaha.
Maap yes atlet-atlet, emang kalo abis kalah ngga enak banget diinterview, ya I feel you. Ngga enak banget nginterview orang abis kalah.
Banyak yang bilang mereka kalo kalah ya biasa aja, malah jalan-jalan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Hanya orang bodoh yang berpikiran seperti itu. Mereka yang eike tau, begitu keluar lapangan pertama dikeramasin dulu sama pelatihnya.
Abis itu merenung dulu sebelum ganti baju. Kalo yang nggak kuat ya pasti nangis di ruang ganti, tapi berusaha semaksimal mungkin supaya ngga ada yang tau dengan cuci muka seribu kali supaya mata dan idung ngga merah.
Trus pulang? Nggak bisa gitu juga. Kadang ada juga yang sama pelatihnya disuruh nonton pertandingan lain supaya bisa evaluasi. Ada juga yang musti ngerekamin pertandingan temennya. Semua itu dilakukan dengan muka tembok dan mencoba untuk tetap tegar. Pasti perang batin banget kalau ngeliat temennya hari itu menang, pasti ada perasaan 'kenapa gue kalah?'.
Pas pulang ke hotel ngapain? Mandi, nyuci baju, dan harus melewati momen-rasanya-pengen-bunuh-diri-aja. Mereka rata-rata perlu waktu 1 x 24 jam untuk meresapi momen ini. Ada yang ngga mau keluar dari kamar seharian kecuali latihan sama makan. Ada juga yang tetap ceria tapi tiap lima menit sekali menyisipkan pembahasan kenapa kmaren kalah dari si X. Ada yang harus nyanyi sambil ngeganti lirik lagunya sama nama partnernya atau lawannya. Ada juga yang nyaris putus asa karena kalah melulu dan berpikir untuk berenti aja jadi pemain. Ada juga yang menumpahkan isi hati di Path (walopun temenan ama pelatihnya dan kabid binpresnya :) )
Sebagai contoh pas Piala Thomas Uber 2012 di Wuhan. Well, eike lupa sebenernya ini udah eike ceritain apa belom. Ada cerita dibalik kenyataan pahit tim Indonesia yang dikalahkan Jepang.
Hayom yang turun di partai kelima gagal ngalahin Ueda. Pasti kita waktu itu juga ketampar sama kekalahan Hayom. Well, eike juga baca cacian makian kepada dia waktu kalah malam itu. Apapun itu, nggak perlu dihina-hina, Hayom sendiri merasa dia gagal total sebagai pemain karena nggak bisa ngasih poin buat Indonesia.
Kekecewaan udah nggak usah ditanya. Malam itu Hayom datang ke pelatihnya dan minta maaf atas penampilannya yang berakibat Indonesia kalah. Setelah tenang, Hayom nanya sama pelatihnya apakah beliau masih mau jadi pelatihnya mengingat dia adalah pemain yang sudah melakukan kesalahan fatal kepada timnya ? Daleeeem.
Meanwhile di tim Uber, Linda juga gagal mengamankan poin terakhir dan kalah dari Mitani. Setelah tim Thomas rontok, sekarang tim Uber juga roboh, kebayang lah itu perasaan tim kayak apa ancurnya. Pas kita di bus menuju hotel, Linda ternyata cedera kaki dan sempet kram parah.
Pas masuk bus, dia meringis dan manggil-manggil kak Felix (pelatih fisik yang suka ngebantu jadi fisioterapi juga) karena kakinya sakit. Saking nggak bisa nahan sakitnya Linda sampe nangis sesenggukan di dalam bus, tim ofisial pun berusaha meluruskan kakinya dia di bus sampe ngalangin jalan. Dan dia masih tereak-tereak nangis kesakitan. Sampe mereka yang belom dapet tempat duduk terpaksa berdiri sampe hotel karena jalannya kehalang kaki Linda yang ngga boleh ditekuk.
Kebayang kan suasana malam itu, semua yang ada di bus diam seribu bahasa menelan rasa pahit kekalahan dua tim Indonesia. Selain suara mesin bus, hanya terdengar rintihan Linda yang masih nahan sakit sampe hotel. Rasanya pengen ikutan nangis.
Ternyata esok harinya kami harus segera check out dari hotel dan kembali ke Jakarta via Guangzhou. Di Guangzhou nginep semalem karena pesawat ke Jakarta masih full. Malam itu Linda nginep di kamar eike dan tidurnya nyenyak banget, posisinya ngga berubah sampe pagi, sepertinya capek banget.
Sebelumnya dia cerita kalau semalam dia baru tidur beberapa jam doang. Selain nggak dapet posisi enak untuk nahan sakit kakinya, dia juga depresi berat sama kekalahan malam itu sampe matanya nggak dipake buat merem. Cuma bisa nangis dan menyesali kenapa kalah dari Mitani. Baru bisa merem bentar udah ditelpon dan disuruh pulang padahal belum packing. Jadilah packing sambil pincang-pincang dan mata bengkak.
Apakah ini yang namanya tidak menyesali kekalahan dan tidak intospeksi diri? Kadang tidak semua atlet itu bisa menunjukkan perasaan mereka. Seolah mereka fine aja, tapi siapa sih yang tidak kecewa dengan kegagalan? It's just a matter of how you show others or how smart you hide it from others. So don't judge if you know nothing.
Serius amat yak postingan ini? Biasanya isi blogeike kan cuma nyampah-nyampah bergembira, tapi kali ini kok rada bener idupnya, kak? Ya gapapa sih biar kesannya eike tuh bisa jadi orang yang serius. Eiym!.
Oh iya, apart from bisa ke luar negeri untuk liputan turnamen bergengsi, bisa kenal sama atlet-atlet, begitu banyak pelajaran berharga yang eike dapet dari pekerjaan ini.
Semangat dan tahan banting. Adalah dua hal yang eike pelajari dari para atlet. Contohnya dari seorang Butet. Misalnya besok doi pengen berhadapan sama musuh bebuyutan si Xu/Ma di pertandingan penting. Eike nanya dong (bukan pas interview) : "Tet, gimana dong besok ketemu ama musuh bebuyutan?" (Sapa yang tanding, sapa yang panik). Dia sih dengan sante aja bilang "Ya hadepin aja, emang kenapa kalo lawan mereka?". Bok, secara kadang Butet/Owi suka kalah ngenes dari mereka, tapi kok ya doi woles amatan! Ternyata usut punya usut, kata mamanya Butet, anaknya itu kalo kalah, punya hasrat membara untuk bales dendam di next match.
[caption id="" align="alignnone" width="960"]
team dinner in New Delhi, India, during Thomas and Uber Cup 2014[/caption]

[caption id="" align="alignnone" width="960"]
a pose with INA squad in SEA Games Myanmar 2013[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="1920"]
This is what we do while waiting over something so looong. Wif Asian Games 2014 gold medalists, Gel/Titin[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="1136"]
Lunch bareng Butet, ci Mely, Debby and Naf2 di Paris[/caption]
Jawabannya : Mereka sama aja kayak manusia biasa.
Sama aja kayak temen-temen yeiy semua di sekolah, di kantor, di tempat nongkrong, etc etc. Mereka sifatnya beragam, ada yang cool, ada yang bawel, ada yang introvert, extrovert, ada yang dermawan, ada yang pelit, ada yang higienis, ada yang jorok, ya seperti layaknya manusia-manusia lainnya di luar sana.
Awalnya sih jujur aja mereka pada kaku sama eike, apalagi titelnya wartawan. Dari beberapa pengakuan atlet, mereka trauma karena apa yang mereka sampaikan biasanya beda sama apa yang muncul di media. Mereka nggak gitu aware juga, apa sih pentingnya kalau ngasih komentar ke media soal penampilan gue?
Well, baiklah. Ini adalah tugas berat juga buat eike. Tantangan. Gimana caranya gain their trust so I can do my work effectively.
Seiring berjalannya waktu, kami saling mengenal satu sama lain. Eke tau siapa mereka dan mereka tau siapa eike dan apa fungsi eike di sekitar mereka. Mereka mulai ngerti kalau ekspose media baik untuk karir mereka khususnya dan perkembangan bulu tangkis pada umumnya.
Sekarang mereka juga udah mulai terbuka sama eike. Sekarang mereka udah percaya untuk sharing hal-hal yang sifatnya off the record. Artinya nggak perlu disebarkan ke khalayak ramai.
Eike tau siapa yang berantem sama siapa, siapa yang lagi kesel sama partner mainnya, siapa yang lagi dihajar pelatihnya, siapa yang lagi mau dipisahin pasangannya, siapa yang udah mau berenti jadi pemain, siapa yang lagi krisis sama pacarnya, siapa yang ternyata dulu pernah pacaran sama siapa dan ngga ada yang tau kecuali mereka berdua, siapa yang aneh-aneh kelakuannya, siapa yang jarang mandi, siapa yang didepan kayak baik-baik aja padahal dibelakang saingannya gila-gilaan, dan masih banyak lagi.
Bahkan eike juga tau apakah atlet lagi cedera parah yang kemungkinan besoknya nggak bisa main maksimal, atau bahkan ada yang WO. Nggak sedikit juga yang cerita soal pribadi mulai dari pacar, keluarga, adek, kakak, nenek, kakek, semuanya. Nggak semuanya cerita bahagia, banyak juga cerita yang bikin nangis bareng saking sedihnya.
Dekat dengan mereka bikin eike punya segudang cerita yang bisa di-share mungkin lewat twitter, facebook, atau bahkan blog ini. Nggak munafik juga, jadi banyak orang yang kenal eike karena sering ceriwisan di socmed soal atlet-atlet (cie, situ oke?!). TETAPI, begitu banyak juga hal yang cuma bisa disimpen dalam hati, dikunci dan kuncinya buang ke sumur. I dont find something useful to brag about athlete's personal life and privacy in socmed.
Kepercayaan seperti ini nggak diraih dalam waktu semalam. Butuh waktu untuk mengenal mereka dan mendapatkan kepercayaan mereka. Trust is damn expensive man. Makanya, ngejaga kepercayaan mereka adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Sebagai pecinta bulu tangkis, tentunya banyak hal yang gue kepoin dari atlet-atlet ini. Dan sekarang hampir 100 persen kekepoan eike selama 15 tahun lalu udah terjawab. Apalagi kalo ngobrol sama Butet, begitu banyak hal off the record yang dia ceritain dan bikin gw kaget setengah mati sampe yang bikin berdecak kagum tapi berhubung dia bilang ga boleh kasi tau sapa-sapa yaudah disimpen sendiri ajah. Secara kalo ngobrol ama Butet tuh bahannya beraaaat! (Kecuali pas ngomongin LYD dan berakhir dengan keriangan gw dan keenegan dia).
Hasil ngepoin atlet ada yang jawabannya sesuai harapan, ada yang enggak. Well, this is real life, nothing is perfect. Don't be naive.
As a badminton addict, eike sering juga baca komen-komen orang tentang atlet-atlet di fordis yang sekarang udah menjamur. Kadang mau ketawa baca judgement-judgement sotoy membernya. Well, eike bukanlah orang yang paling deket sama atlet, tapi eike ngeliat sendiri fakta-fakta yang ada di depan mata yang sama sekali nggak sesuai dengan tuduhan-tuduhan orang.
Satu hal yang lucu adalah ketika seseorang ngejudge atlet-atlet yang habis kalah.
Seorang atlet yang kalah nggak dengan gampangnya keluar lapangan dan langsung balik ke hotel melakukan aktivitas seperti biasa. Well, pertama dia harus menghadapi eike dulu, hahahaha.
Maap yes atlet-atlet, emang kalo abis kalah ngga enak banget diinterview, ya I feel you. Ngga enak banget nginterview orang abis kalah.
Banyak yang bilang mereka kalo kalah ya biasa aja, malah jalan-jalan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Hanya orang bodoh yang berpikiran seperti itu. Mereka yang eike tau, begitu keluar lapangan pertama dikeramasin dulu sama pelatihnya.
Abis itu merenung dulu sebelum ganti baju. Kalo yang nggak kuat ya pasti nangis di ruang ganti, tapi berusaha semaksimal mungkin supaya ngga ada yang tau dengan cuci muka seribu kali supaya mata dan idung ngga merah.
Trus pulang? Nggak bisa gitu juga. Kadang ada juga yang sama pelatihnya disuruh nonton pertandingan lain supaya bisa evaluasi. Ada juga yang musti ngerekamin pertandingan temennya. Semua itu dilakukan dengan muka tembok dan mencoba untuk tetap tegar. Pasti perang batin banget kalau ngeliat temennya hari itu menang, pasti ada perasaan 'kenapa gue kalah?'.
Pas pulang ke hotel ngapain? Mandi, nyuci baju, dan harus melewati momen-rasanya-pengen-bunuh-diri-aja. Mereka rata-rata perlu waktu 1 x 24 jam untuk meresapi momen ini. Ada yang ngga mau keluar dari kamar seharian kecuali latihan sama makan. Ada juga yang tetap ceria tapi tiap lima menit sekali menyisipkan pembahasan kenapa kmaren kalah dari si X. Ada yang harus nyanyi sambil ngeganti lirik lagunya sama nama partnernya atau lawannya. Ada juga yang nyaris putus asa karena kalah melulu dan berpikir untuk berenti aja jadi pemain. Ada juga yang menumpahkan isi hati di Path (walopun temenan ama pelatihnya dan kabid binpresnya :) )
Sebagai contoh pas Piala Thomas Uber 2012 di Wuhan. Well, eike lupa sebenernya ini udah eike ceritain apa belom. Ada cerita dibalik kenyataan pahit tim Indonesia yang dikalahkan Jepang.
Hayom yang turun di partai kelima gagal ngalahin Ueda. Pasti kita waktu itu juga ketampar sama kekalahan Hayom. Well, eike juga baca cacian makian kepada dia waktu kalah malam itu. Apapun itu, nggak perlu dihina-hina, Hayom sendiri merasa dia gagal total sebagai pemain karena nggak bisa ngasih poin buat Indonesia.
Kekecewaan udah nggak usah ditanya. Malam itu Hayom datang ke pelatihnya dan minta maaf atas penampilannya yang berakibat Indonesia kalah. Setelah tenang, Hayom nanya sama pelatihnya apakah beliau masih mau jadi pelatihnya mengingat dia adalah pemain yang sudah melakukan kesalahan fatal kepada timnya ? Daleeeem.
Meanwhile di tim Uber, Linda juga gagal mengamankan poin terakhir dan kalah dari Mitani. Setelah tim Thomas rontok, sekarang tim Uber juga roboh, kebayang lah itu perasaan tim kayak apa ancurnya. Pas kita di bus menuju hotel, Linda ternyata cedera kaki dan sempet kram parah.
Pas masuk bus, dia meringis dan manggil-manggil kak Felix (pelatih fisik yang suka ngebantu jadi fisioterapi juga) karena kakinya sakit. Saking nggak bisa nahan sakitnya Linda sampe nangis sesenggukan di dalam bus, tim ofisial pun berusaha meluruskan kakinya dia di bus sampe ngalangin jalan. Dan dia masih tereak-tereak nangis kesakitan. Sampe mereka yang belom dapet tempat duduk terpaksa berdiri sampe hotel karena jalannya kehalang kaki Linda yang ngga boleh ditekuk.
Kebayang kan suasana malam itu, semua yang ada di bus diam seribu bahasa menelan rasa pahit kekalahan dua tim Indonesia. Selain suara mesin bus, hanya terdengar rintihan Linda yang masih nahan sakit sampe hotel. Rasanya pengen ikutan nangis.
Ternyata esok harinya kami harus segera check out dari hotel dan kembali ke Jakarta via Guangzhou. Di Guangzhou nginep semalem karena pesawat ke Jakarta masih full. Malam itu Linda nginep di kamar eike dan tidurnya nyenyak banget, posisinya ngga berubah sampe pagi, sepertinya capek banget.
Sebelumnya dia cerita kalau semalam dia baru tidur beberapa jam doang. Selain nggak dapet posisi enak untuk nahan sakit kakinya, dia juga depresi berat sama kekalahan malam itu sampe matanya nggak dipake buat merem. Cuma bisa nangis dan menyesali kenapa kalah dari Mitani. Baru bisa merem bentar udah ditelpon dan disuruh pulang padahal belum packing. Jadilah packing sambil pincang-pincang dan mata bengkak.
Apakah ini yang namanya tidak menyesali kekalahan dan tidak intospeksi diri? Kadang tidak semua atlet itu bisa menunjukkan perasaan mereka. Seolah mereka fine aja, tapi siapa sih yang tidak kecewa dengan kegagalan? It's just a matter of how you show others or how smart you hide it from others. So don't judge if you know nothing.
Serius amat yak postingan ini? Biasanya isi blogeike kan cuma nyampah-nyampah bergembira, tapi kali ini kok rada bener idupnya, kak? Ya gapapa sih biar kesannya eike tuh bisa jadi orang yang serius. Eiym!.
Oh iya, apart from bisa ke luar negeri untuk liputan turnamen bergengsi, bisa kenal sama atlet-atlet, begitu banyak pelajaran berharga yang eike dapet dari pekerjaan ini.
Semangat dan tahan banting. Adalah dua hal yang eike pelajari dari para atlet. Contohnya dari seorang Butet. Misalnya besok doi pengen berhadapan sama musuh bebuyutan si Xu/Ma di pertandingan penting. Eike nanya dong (bukan pas interview) : "Tet, gimana dong besok ketemu ama musuh bebuyutan?" (Sapa yang tanding, sapa yang panik). Dia sih dengan sante aja bilang "Ya hadepin aja, emang kenapa kalo lawan mereka?". Bok, secara kadang Butet/Owi suka kalah ngenes dari mereka, tapi kok ya doi woles amatan! Ternyata usut punya usut, kata mamanya Butet, anaknya itu kalo kalah, punya hasrat membara untuk bales dendam di next match.
Contoh kedua. Waktu final All England taon berapa ya, waktu itu eke nonton di tribun player sama anak-anak. Kala itu Butet/Owi sempet ketinggalan dan eike yang berjiwa pesimis dan cemen langsung nutup muka pake tangan dan bilang "Ya Allah gimana iniiii?!". Trus anak-anak langsung bilang "Kenapa mbak? Kan belum game, masih ada kesempatan mbak!". Disitu kadang saya merasa cupu. Mungkin itulah sebabnya Tuhan tidak menakdirkan eike sebagai seorang atlet betminten. Secara mental juara jeblok begini.
Selain itu, ada juga atlet yang kondisinya sulit banget. Prestasinya lagi stagnan, cedera masih menghantui, pelatihnya galak, pengurus strict, temen-temen fokus sama karir sendiri-sendiri, pacar nggak punya, tapi life must go on karena dia tulang punggung keluarga juga. Saat diterpa (ngga kukuw bahasa gue!) masalah, kadang eike suka inget sama dia. Masalahnya dia yang segitunya kompleks aja masih semangat terus menghadapi hari-hari yang penuh persaingan. Udah mana yang bisa nolong diri dia ya adalah usaha dia sendiri. Eike juga pasti bisaaa!!!
Hal yang sama eike liat sama Butet/Owi pas Olimpiade London 2012. Gile, harapan +200 juta rakyat Indonesia ada di pundak mereka. Kalo eike sih pagi sebelon tanding udah ditandu karna dengkul lemes ga kuat nahan tekanan.
Sama juga kayak Hendra/Ahsan pas mau ngadepin LYD/YYS di Asian Games 2014 kemaren. Secara udah 5x berturut-turut kalah, termasuk di Istora yang kandang ndiri, trus ditargetin untuk bawa medali emas pulak. Sebelom tanding, Ya Allooooh eike yang pemaen bukan pelatih bukan aja tegangnya kayak jantung mau break dance nih di dada! Etapi duo papas itu ternyata bisa ngalahin tekanan, ditambah lagi si ganteng-ganteng atlet (baca : LYD) ternyata lebih dibawah tekanan. Secara yah dese tuan rumah, harapan bangsa dan negara, dan ganteng (yang ini bebisaan gw doang nambahin. Dan ga nyambung).
Jadi kesimpulannya banyak banget lesson learned dari profesi ini. Dengan sharing di sini, semoga pengalaman eike juga bisa bermanfaat untuk yang baca yah.. *kembali serius* 😎
[caption id="" align="alignnone" width="960"]
team dinner in New Delhi, India, during Thomas and Uber Cup 2014[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="960"]
a pose with INA squad in SEA Games Myanmar 2013[/caption][caption id="" align="alignnone" width="1920"]
This is what we do while waiting over something so looong. Wif Asian Games 2014 gold medalists, Gel/Titin[/caption][caption id="" align="alignnone" width="1136"]
Lunch bareng Butet, ci Mely, Debby and Naf2 di Paris[/caption]
Nice share mbawid, thanks :)
ReplyDeleteMengharukan banget baca behind the scene-nya, jadi tamparan tuh buat para BL yang suka judging seenaknya. Pasang ekspektasi boleh, tapi tetep harus respect, apapun hasil akhirnya :)
Tapi tetep aja sik klo ngoms soal elyedeh selalu bikin ngakaks. Makasih mbak, btw kapan mulai aktif bertugas lagi nih? All the best :)
mbak wid, komuk lo kok mirip bat ama meghan trainor yak??? haha #kiddingelahmbakjandianggepseriusyak eh mbak btw rahasia lo apasih bisa sedeket itu sama atlet??? #disitusayamerasaenvy
ReplyDeleteTerima kasih banyak untuk sharingnya Mbak Wid... :)
ReplyDeleteSaya jadi belajar lebih banyak lagi... :)
As badminton lovers, I do really love it.
ReplyDeleteMaybe you need to write some inspiring stories from Badminton players of Indonesia. Akan sangat menginspirasi!
Cuma mau bilang, Daebak mba wid artikelnya. *_*
ReplyDeletenemu blog ini jdi suka ngakak sndiri, isinya bener2 hal yg tak trduga tntang olahraga tepok bulu angsa :)
ReplyDeleteMbak Wiiiiiiiiddddd, huhuhu alhamdulillah akhirnya blognya idup lagi, suka nungguin tau Mbak, setaon ngga diapdet :'( ternyata hamdun dan udah lairan to, makin syibuk yah, hihihi moga debay n mommynya sehat terus ya Mbak :D tugasnya makin banyak => ngintilin ciumbrella teams, ngemong debay, dan tentunya kasih kita vitamin biar ngakak kalo baca blog ini, keep update yah Mbaaakkk, love youuuuu, HAHAHA!
ReplyDeleteYa ampuuun, makasih yaaa udah nungguin postingan blogeike ... Tetep jadi pembaca setia yah, semoga kedepannya eike bisa ngapdet lebih sering 😊
ReplyDeleteHeloow, pantengin terus yaa apdetan dari olahraga tepok bulu angsa 😆
ReplyDeleteAeeeh baru bacaaa, tengkyu so mucho yah 😎
ReplyDeleteThanks ! 😊😊
ReplyDeleteGlad you love it, will do for the next next posts. Stay tune! 😊
ReplyDeleteAmiin kalo tulisannya bermanfaat ya 😊
ReplyDeleteijin shared ya mbak...
ReplyDeletewah gmn awalx mbk bs ngeliput lgsg pemain timnas? :D
ReplyDeleteWah panjang deh ceritanya :)
ReplyDeleteSilahkan :)
ReplyDeletebisa dijadiin motivasi :')
ReplyDeletemakasih mba widyabirama :*
Aaw, thank you 😉 ... You're most welcome!
ReplyDeleteSedih bacanya mba hiks hiks. pelajaran buat semua pencinta badminton untuk menjudge atlit ketika kalah.
ReplyDeletehal hal seperti ini yg kita gak tau saat di luar lapangan,, sangat menginspirasi mbaak wid, terharu :')
ReplyDeleteSemalem di tengah2 waktu suntuk masih belajar karna besok UAS, ga sengaja ngliat di ig nya vita marissa, ada fotonya mba wid.. karna kepo sama foto yg wajahnya asing,aku follow lah ignya wlpn blom di acc😁 gak pikir panjang, aku buka aja blog nya, dan setelah baca baca, rasanya aku seperti mendapatkan kehidupan baru.. bukan perasaan iri tapi lebih ke terharu dan merinding.. keren banget mba bisa akrab sama atlit2, suka juga sama tulisan2 mba, krna skrg saya jd ngerti gimana atlit stlh kalah dr match.. pokoknya tulisan mba wid bisa bikin ketawa sekaligus sedih di saat yg bersamaan.. nice mb!!😊
ReplyDeleteKataknya harus jadi bahan yg harus di ceritain tersendiri mbak Wid ... biar tambah seruuu.
ReplyDeletekatak mana dulu nih? ih gw jadi bingung sendiri, haha
ReplyDeleteBaru baca tulisan ini sekarang. Jadi kebayang gimana perasaan Jojo setelah kalah di Japan dan China Open 2018. Setelah menang dan gain popularity after AG 2018 kemarin, sekarang dia kalah di dua kejuaraan. Babak awal pula. Terus buka IG baca komen2 netijen yg maha benar. Saya sempat jadi salah satunya, hiks 😔. Gak parah kok ngejudge-nya. Lbh kepada pelampiasan kekecewaan karena smpat brharap Jojo sdh improving gt performance-nya. Mba Widi tau lah ya, berasa di PHP gt. Tapi setelah baca ini, well, harus nerima dgn lapang dada bahwa sekecewa-kecewanya penonton setia tepok bulu angsa ini, atletnya pasti jauh lebih kecewa. Sebuah reminder yg harus selalu diingat oleh diri ini yang terkadang khilaf, lupa, dan alpa (sudah keinfeksi tulisan mba Widi nih kayakx😅).
ReplyDeleteThank you mba, Wid. Tulisannya sangat mencerahkan 😘
Dear mba Wid, thank you for sharing ur experience, so inspiring! Jadi terharu bacanya terus sedih jga bacanya, suka bgt kalo lg serius nulisnya haha.. sehat selalu mba dan para atlet
ReplyDelete