Skip to main content

Duo R, Duo Legenda Ganda Putra Indonesia

Hey you para badminton addict, nostalgia sejenak yuk.....

Siapa yang tak kenal dengan mantan ganda putra Indonesia yang sangat ditakuti dunia, Ricky Subagdja dan Rexy Mainaky? Duo R adalah sebutan bagi mereka. Pasangan peraih emas di Olimpade Atlanta 1996 ini merupakan pasangan ganda terkuat Indonesia di tahun 1996. Mereka tak hanya bertengger di peringkat satu dunia, namun juga tak terkalahkan selama 1,5 tahun sejak 1995.

[caption id="attachment_297" align="aligncenter" width="241" caption="Rexy - Ricky saat menerima medali Olimpiade Atlanta 1996"][/caption]

Duo R memang menjadi ujung tombak Indonesia di sektor ganda. Dengan bekal mengantongi gelar kejuaraan bergengsi dunia seperti All England 1996, Kejuaraan Dunia 1996, Korea Open 1995, Japan Open 1995 dan lainnya, Ricky-Rexy seolah tak terbendung oleh lawan-lawannya. Di masa kejayaan mereka, hamper pasti mereka dapat memenangkan semua pertandingan, apalagi saat itu hanya satu ganda dari Malaysia, Cheah Soon Kit – Yap Kim Hock yang mampu menandingi kesaktian Duo R. Saat itu raksasa bulutangkis China belum memiliki ganda putra yang solid seperti Indonesia atau Malaysia.
Ricky dan Rexy memulai karir gemilang mereka di tahun 1993, dimana awalnya Ricky justru dipasangkan oleh kakak Rexy, yaitu Richard Mainaky. Namun sang pelatih, Christian Hadinata, justru melihat Ricky akan cocok dipasangkan dengan Rexy. Dan benar saja, mereka pun kian tangguh dan menjadi ancaman bagi ganda Malaysia dan Korea Selatan yang saat itu merajalela. Pasangan ini pun melejit ke puncak tangga ranking IBF (sekarang BWF).


Ricky yang lahir di Bandung, 27 Januari 1971 ini merupakan pemain dengan karakter yang lebih tenang dibandingkan pasangannya Rexy yang cenderung ekspresif di lapangan. Ricky terkenal dengan serve nya yang cepat dan tanpa melihat kearah lawan, hal ini adalah strategi nya agar lawan tak mampu membaca arah serve nya. Rexy lain lagi, dengan ekspresi yang meledak-ledak, ia adalah pembunuh yang sangat mematikan di depan net. Chop dan smash keras di bibir net sudah hampir pasti tak mampu dikembalikan dengan baik oleh lawan. Masyarakat penggemar bulutangkis Indonesia pun tentunya masih ingat betapa pasangan ini kerap melakukan pukulan akrobatik yang sangat luar biasa sehingga mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya. Hal ini menunjukkan bahwa defense Duo R tak perlu diragukan lagi.
Selain itu, mereka juga terkenal dengan rotasi atau perputaran yang baik selama pertandingan, Rexy yang biasanya menjadi ‘tukang gebuk’ di depan net, terkadang juga bergerak ke belakang jika kondisi Ricky tak memugkinkan untuk melakukan smash. Komunikasi di lapangan pun jelas terlihat, sebuah kombinasi yang sangat baik : teknik, komunikasi, dan strategi yang tepat di lapangan. Hal ini tentunya sangat dibutuhkan oleh pemain ganda dimana kerjasama dan komunikasi dapat menjadi senjata mereka menumpaskan lawan.
Kegagahan mereka di lapangan membuat pasangan ini kerap dijadikan tumpuan dan harapan team Indonesia baik dalam pertandingan beregu ataupun pertandingan akbar dunia seperti Olimpiade. Mereka juga turut menjadi penyumbang point kemenangan team Thomas Cup 1996 di Queen Elizabeth Stadium, Hongkong. Saat itu di partai final, Indonesia berhadapan dengan team Denmark yang dimotori oleh Poul Erik Hoyer-Larsen. Duo R yang saat itu harus bermain di partai kedua melawan ganda utama Denmark yaitu John Holst Christensen- Jim Laugesen. Berbekal kepercayaan diri yang tinggi karena sebelumnya Joko Supriyanto berhasil mengalahkan Poul Erik, Duo R bermain sangat taktis dan tak perlu waktu lama untuk menghempaskan pasangan ini dalam dua set langsung 15-5 15-7.
Thomas Cup 1996 berakhir, namun harapan bangsa Indonesia belum berakhir pada pasangan ini. Masih ada Olimpiade Atlanta yang sudah menunggu di depan mata. Lagi-lagi Duo R menjadi harapan merah putih untuk mendulang emas. Sempat merasa terbebani, Ricky – Rexy pun berusaha tetap focus agar dapat mengeluarkan performa terbaik mereka. Pasalnya, saat itu mereka yang merupakan pasangan nomor satu dunia adalah kandidat terkuat di sector ganda untuk memenangkan gelar juara paling bergengsi itu. Seperti yang sudah diperkirakan, Ricky – Rexy kembali harus memeras keringat untuk menang, karena di final sudah menunggu musuh bebuyutan mereka Cheah Soon Kit – Yap Kim Hock dari Malaysia. Sudah tentu pasangan Malaysia ini juga menjadi harapan negaranya untuk meraih emas yang di kala itu memang sulit sekali diraih negara Asia Tenggara. Bermain dengan sangat hati-hati, Duo R mendapat perlawanan yang sangat sengit dari ganda Malaysia ini. Namun mereka menunjukkan kepada dunia bahwa mereka lah yang terbaik, Duo R memenangkan pertandingan tiga set yang melelahkan dengan skor 5-15 15-13 15-12. Masih terekam jelas diingatan kita semua betapa harunya Ricky Rexy merayakan kemenangan dengan tangis bahagia bersama pelatih mereka Christian Hadinata. Mereka berpelukan dan berguling di lapangan dan tentunya hal ini menjadi sasaran empuk bagi media untuk diabadikan.

[caption id="attachment_298" align="aligncenter" width="300" caption="Drama kemenangan Ricky-Rexy di Atlanta"][/caption]

Hingga saat ini, nama mereka masih sering terdengar gaungnya di dunia perbulutangkisan. Rexy kini menjadi pelatih ganda putra di Malaysia dan telah menelurkan ganda terbaik dunia Koo Kien Kiet dan Tan Boon Heong. Sementara itu, Ricky berkecimpung di dunia bisnis yang masih berhubungan dengan bulutangkis tanah air. Hingga saat ini, Duo R masih kerap bertemu di pertandingan yang diadakan di Indonesia, renuni keduanya juga masih saja mengundang perhatian para pemburu berita. Kharisma juara dari keduanya memang belum luntur hingga saat ini. Mereka pun berniat untuk terus mengabdi dalam memajukan dunia bulutangkis.

 




[caption id="attachment_299" align="aligncenter" width="298" caption="Ricky - Rexy setelah gantung raket"][/caption]

So, buat kamu-kamu yang dulu majang poster Ricky-Rexy di lemari kamar, yang dulu jejeritan liat mereka di lapangan seharusnya patut merasa bangga karena nama mereka hingga saat ini masih tetap dihati para penggemar bulutangkis Indonesia.

Comments

  1. Duo R gokiiiiiiilll!! Tiap nonton mereka gada tuh yg namanya takut, karena ud pasti menang! I love ricky rexy. Akang ricky apalagi, kasep pisan! XD

    ReplyDelete
  2. Udah kasep, juara mulu, hadeh, puyeng gue. Moga-moga ada lagi akang Ricky kasep lainnya yang bisa dapetin emas di Olimpiade :)

    ReplyDelete
  3. mereka tetap yg terhebat

    ReplyDelete
  4. Ricky Rexy were amazing. I miss watching them on court!

    ReplyDelete
  5. Wkt it q msh kecil uda suka nontn kalo ingt dwo R menang seneng bnget raket ny lgsg d buang dan dy nangis

    ReplyDelete
  6. jd inget masa indah itu,13 thun umur sy wktu itu,liat final mereka sy smpe sholat sunah krn hampir kalah,bskny rumpi di pojokan kelas sm tmen ngerumpiin kmenangn mereka,bner tuh poster mereka marak d kamar sy,ricky guanteng abis wktu muda

    ReplyDelete
  7. Jd inget masa indah itu,13 thn umur sy wktu itu kls 2 smp,liat final merk sy smpe sholt sunah krn hmpir klh,begitu mrka menang keluargaku teriak smpe tetangga berdatngn krn kaget (Hi..hi..)bskny rumpi sm tmn2 di kelas ngerumpiin mereka,yap!poster mereka marak d kmrku,ricky guanteng abis dulu.

    ReplyDelete
  8. Selebrasi paĺing menghaŕukan yg prñh sy liat sepanjang pertndingañ bulutñgkis,ricky lari smbil lempar raket,rexy nangis ga ķetulungan.

    ReplyDelete
  9. Selebràsi paling mengharukan yg prnh sy liat sepanjang pertndingn bulutangkis,ricky lari smbil lempar raket,rexy nangis ga ketulungañ.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tentang Si Glowing yang Menyilaukan Dunia Netyjen...

Have you ever ngerasain ini? Mau dua-duanya. Kayak cewe-cewe ababil yang ga mo keilangan fans yang lagi dipedekatein dua cowo, trus nyanyik : skali lagi maafkanlah, karna aku cinta kau dan diaaa.... *Gue nulis ini beneran sambil dengerin lagunya Ahmad Band yang Cinta Kau dan Dia..* Final bulutangkis perorangan ganda putra Asian Games 2018. AKU PENGEN DUA-DUANYA YANG MENANG BISA GASIIIH?

Menangisku di Jerman, Tersenyumku di All England ....

Hulaaaa, setelah mendapat ilham, akhirnya kelar juga ni postingan tur Yurop que. Selamat membaca ya, maaf kalau ada bahasa yang tidak bisa dimengerti, kadang gue sendiri juga nggak ngerti. Udah lama banget nggak liputan ke Jerman, terakhir tahun 2014 aja gitu, pas gw masih langsing (PENTING AMAT). Sekarang dapet kesempatan lagi liputan ke Jerman, rasanya seneng walopun nggak seseneng ke All England sih. Soalnya, medan pertempurannya berat cyyn. Dari suhu udara aja udah gak kukuw yes, dengan sesaljuan bertebaran, kite mesti menempuh perjalanan yang cukup jauh dan.... NANJAK. Again, bukannya mengeluh, tapi cuma nyeritain fakta aja koq. Namanya juga lagi ngeblog yekan. Eike sampe ngerekam itu perjalanan dari hotel ke hall, video nya udah dicepetin tapi tetep aja lamaa banget. Karena emang jauh sih. Jaraknya 1 km lebih lah, deket? cobain deh jalan kaki, nanjak, di suhu -2, angin-angin membara, lewatin kuburan, bawa tas raket/bawa tas kamera yang seberat gaban.

Asian Games 2018 : #TERIMAKASIHGINTING

Tiga kali sudah air mata eike jatuh saat nonton pertandingan bulutangkis. Pertama, waktu tim Thomas kalah dari Malaysia di Piala Thomas 2014. Kedua, waktu Owi/Butet dapet medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Ketiga, final beregu putra Asian Games 2018. Selama tujuh tahun kerja bareng temen-temen atlet ini, eike belum pernah ngeliat apa yang eike liat di malam itu. Oke. Indonesia, jadi tuan rumah Asian Games. Tanding di hadapan publik Istora yang terkenal fantastis. Ditonton orang nomor satu di Indonesia, Presiden Jokowi. Sudah 16 tahun nggak dapet emas, sekarang main di Jakarta dan udah masuk final. Kebayang kan bebannya? Gak usah atletnya, gua aja yang penghias tribun doang tegang banget. Tapi eike terkejut seterkejutnya pas ngeliat Ginting masuk ke lapangan. Gini, saking seringnya ngeliat atlet tanding, bahkan kadang dari jarak deket pas motret di pinggir lapangan, eike jadi bisa ngebedain kalau dia lagi 'beda'. Semalam, yang eike liat itu seperti bukan Ginting.