Tersenyum bahagia. Terharu. Menitikkan air mata. Nyeka aer mata diem-diem.
Empat hal diatas adalah aktivitas emosi yang paling sering saya lakukan selama berada di Kudus. Kata orang, kalau terlalu sering ketawa pasti akhirnya nangis, sebagai manusia modern masa kini, saya totally nggak percaya dengan mitos tersebut. Namun itulah yang saya alami selama Audisi PB Djarum kemarin. Tertawa terlalu berlebihan saat perjalanan menuju Kudus bersama Titiw ternyata membawa saya ke tangis haru di sore harinya.
Gimana enggak? Baru sekali nih saya lihat ratusan orang berkumpul bersama untuk satu tujuan yang sangat mulia yaitu menjadi pahlawan bulutangkis Indonesia.
Hari gini? Masih ada yah orang tua yang rela anaknya jadi atlet? Jawabannya : BANYAK!
Sampai detik saya nulis artikel ini, bulu kuduk masih suka merinding disko kalau ingat suasana audisi. Ratusan orang tua datang dengan membawa sejuta harapan agar anak mereka bisa diterima di PB Djarum. Agar anak mereka bisa jadi atlet terkenal di dunia. Agar anak mereka bisa mengharumkan nama Indonesia. Dan sejuta ‘agar-agar’ lainnya yang membuat si orangtua rela berkorban apapun supaya si anak bisa ikut audisi.
[caption id="attachment_287" align="aligncenter" width="342" caption="Ratusan orang tua menyemangati anak mereka di seleksi tahap pertama"]
[/caption]
Semangat anak pun tak kalah berkobarnya, walaupun audisi ditujukan untuk anak 11-15 tahun, namun banyak banget saya lihat anak-anak umur 8-9 tahun yang ternyata hanya mengantar kakak nya ikut audisi. Walaupun masih kecil, mereka semangat banget pengen jadi atlet juga, bahkan ada yang bawa tas raket sendiri dimana tas nya lebih gede dari badan mereka…bawa nya pun harus diseret-seret saking beratnya. Hahaha… patut dicontoh ini semangat muda nya!
Sedang asik wara-wiri di area audisi, tiba-tiba perhatian saya tertuju pada kerumunan orang di depan hall of fame. Ada apa ini? Ada apaaaa?
[caption id="attachment_288" align="aligncenter" width="366" caption="Ki : Bayu dan Bapak Moechtar dari Sulteng ; Ka : Bapak dan Anaknya yang berasal dari Makassar yang juga menempuh perjalanan panjang menuju Kudus"]
[/caption]
Ternyata seorang bapak dan anak peserta audisi sedang diinterview. Adalah Bapak Muchtar dan anaknya Bayu Saputra yang berasal dari Luwuk, Sulawesi Tengah yang sedang memaparkan tentang motivasi mereka mengikuti audisi. Sungguh sungguh sungguh terenyuh mendengar cerita mereka, kalau tidak karena menahan gengsi di depan Titiw dan Didut, saya pasti sudah nangis bombay. Apakah saya berlebihan? ENGGAAAK! Siapa sih yang nggak sedih denger cerita si Bapak yang berprofesi sebagai supir yang rela menabung gila-gilaan untuk membiayai anaknya ke Kudus agar bisa ikut audisi. Berbeda dengan anak lain yang menginap di hotel dan datang naik pesawat, Bayu dan Bapaknya datang dengan kapal laut dan dilanjutkan dengan naik bis.
[caption id="attachment_289" align="aligncenter" width="344" caption="Aksi Bayu saat audisi"]
[/caption]
Sampai di Kudus, sempat bingung mau kemana, Bapak-anak ini pun tidur di pos satpam, walaupun akhirnya mereka berhasil pindah ke kos-kosan dengan harga yang sangat murah. Selesai? Belum. Makan sepiring berdua ternyata bukan cuma ada di film dan video klip dangdut, tapi juga di kehidupan nyata! Karena keterbatasan dana, Bayu dan Bapaknya makan sepiring berdua. Bapaknya membiarkan Bayu makan terlebih dahulu, setelah kenyang, baru si Bapak makan sisanya. Jika kamu adalah manusia normal dan memiliki hati nurani, pasti kamu akan terharu kuadrat mendengar cerita ini. Jika tidak, saya sarankan kamu pergi ke psikolog dan memeriksakan kondisi kejiwaanmu.
Lain Bayu, lain pula cerita Fira yang berasal dari Depok. Fira datang ke Kudus bersama Ayahnya, Bapak Mustajab yang bekerja sebagai petugas kereta api. Kendala biaya juga dialami keluarga Fira, untungnya sang ayah mendapat fasilitas kereta gratis dari tempat kerjanya sehingga Ia bisa menghemat uang transport. Fira dan Bapaknya tinggal di kos-kosan sederhana di sekitar GOR Jati. Sama dengan ratusan anak lainnya, Fira pun datang ke Kudus dengan sejuta harapan. Berbekal gelar juara di daerah asalnya, Ia sebenarnya sudah lama meminta kepada orang tuanya untuk masuk klub bulutangkis di Jakarta, namun sekali lagi biaya menjadi benturan bagi mereka.
“Masuk klub di Jakarta itu biayanya mahal mbak, saya mana mampu, …. Yah semoga saja anak saya bisa masuk PB Djarum dan bisa jadi atlit bulutangkis yang sukses ya…” ujar Pak Mustajab sambil menerawang.
Pak Mustajab juga menceritakan kisah haru yang ia dengar dari beberapa peserta. Ada seorang anak dan bapaknya yang kurang mampu, datang dari Kalimantan dengan kapal laut yang perjalanannya menempuh waktu berhari-hari. Ternyata si anak kelelahan dan akhirnya jatuh sakit sehingga tidak bisa ikut audisi, dan bahkan harus dirawat di rumah sakit setempat. Sungguh disayangkan.
Di tengah pembicaraan kami, tiba-tiba Fira datang menghampiri Bapaknya dan mengatakan bahwa sebentar lagi akan diumumkan pemenang seleksi tahap 2.
“Ya semoga saja kamu menang ya…. Kalau memang rejeki mu ya nggak akan kemana nak” sang Bapak berusaha menenangkan Fira yang tampak tegang. Dan saya pun entah kenapa ikutan deg-deg serr menunggu pengumuman.
“Fira, daripada nervous mending maen bulutangkis sama kita yoook” ajak saya dan Titiw tanpa sadar sebentar lagi harga diri kami akan dilucuti oleh anak berusia 14 tahun ini. Buat Fira, melawan 2 orang dewasa yang bermain amatiran seperti kami adalah perkara kecil. Tanpa ba bi bu , Fira pun membantai kami dengan skor yang cukup telak. Padahal saya dan Titiw istilahnya sudah berusaha total abiss, baik dari teknik pukulan, footwork, bahkan gaya kami yang bak pemain dunia -wanna be, namun tetep aja, bocah ini dengan santai nya mengalahkan kami para wanita usia lanjut.
[caption id="attachment_290" align="aligncenter" width="337" caption="Fira sedang siap-siap serve ke lawan ‘ganda’ nya"]
[/caption]
Walau akirnya Fira dan Bayu tidak lolos seleksi, namun semangat juang mereka patut diacungi jempol. Tunggu dulu, tak hanya mereka, orangtuanya pun patut diacungi jempol bahkan sepuluh jempol. Ditengah apatisme masyarakat pada prestasi bulutangkis Indonesia, para orangtua ini masih memiliki kerpercayaan bahwa anak-anak mereka suatu saat nanti akan menjadi bintang bulutangkis dan mengharumkan nama Indonesia.
Pulang dari Kudus, saya tak hanya membawa cerita seputar bibit bulutangkis muda, namun juga sejuta pesan moral yang akan aku kumandangkan ke penjuru langit dan bumi.
Empat hal diatas adalah aktivitas emosi yang paling sering saya lakukan selama berada di Kudus. Kata orang, kalau terlalu sering ketawa pasti akhirnya nangis, sebagai manusia modern masa kini, saya totally nggak percaya dengan mitos tersebut. Namun itulah yang saya alami selama Audisi PB Djarum kemarin. Tertawa terlalu berlebihan saat perjalanan menuju Kudus bersama Titiw ternyata membawa saya ke tangis haru di sore harinya.
Gimana enggak? Baru sekali nih saya lihat ratusan orang berkumpul bersama untuk satu tujuan yang sangat mulia yaitu menjadi pahlawan bulutangkis Indonesia.
Hari gini? Masih ada yah orang tua yang rela anaknya jadi atlet? Jawabannya : BANYAK!
Sampai detik saya nulis artikel ini, bulu kuduk masih suka merinding disko kalau ingat suasana audisi. Ratusan orang tua datang dengan membawa sejuta harapan agar anak mereka bisa diterima di PB Djarum. Agar anak mereka bisa jadi atlet terkenal di dunia. Agar anak mereka bisa mengharumkan nama Indonesia. Dan sejuta ‘agar-agar’ lainnya yang membuat si orangtua rela berkorban apapun supaya si anak bisa ikut audisi.
[caption id="attachment_287" align="aligncenter" width="342" caption="Ratusan orang tua menyemangati anak mereka di seleksi tahap pertama"]
Semangat anak pun tak kalah berkobarnya, walaupun audisi ditujukan untuk anak 11-15 tahun, namun banyak banget saya lihat anak-anak umur 8-9 tahun yang ternyata hanya mengantar kakak nya ikut audisi. Walaupun masih kecil, mereka semangat banget pengen jadi atlet juga, bahkan ada yang bawa tas raket sendiri dimana tas nya lebih gede dari badan mereka…bawa nya pun harus diseret-seret saking beratnya. Hahaha… patut dicontoh ini semangat muda nya!
Sedang asik wara-wiri di area audisi, tiba-tiba perhatian saya tertuju pada kerumunan orang di depan hall of fame. Ada apa ini? Ada apaaaa?
[caption id="attachment_288" align="aligncenter" width="366" caption="Ki : Bayu dan Bapak Moechtar dari Sulteng ; Ka : Bapak dan Anaknya yang berasal dari Makassar yang juga menempuh perjalanan panjang menuju Kudus"]
Ternyata seorang bapak dan anak peserta audisi sedang diinterview. Adalah Bapak Muchtar dan anaknya Bayu Saputra yang berasal dari Luwuk, Sulawesi Tengah yang sedang memaparkan tentang motivasi mereka mengikuti audisi. Sungguh sungguh sungguh terenyuh mendengar cerita mereka, kalau tidak karena menahan gengsi di depan Titiw dan Didut, saya pasti sudah nangis bombay. Apakah saya berlebihan? ENGGAAAK! Siapa sih yang nggak sedih denger cerita si Bapak yang berprofesi sebagai supir yang rela menabung gila-gilaan untuk membiayai anaknya ke Kudus agar bisa ikut audisi. Berbeda dengan anak lain yang menginap di hotel dan datang naik pesawat, Bayu dan Bapaknya datang dengan kapal laut dan dilanjutkan dengan naik bis.
[caption id="attachment_289" align="aligncenter" width="344" caption="Aksi Bayu saat audisi"]
Sampai di Kudus, sempat bingung mau kemana, Bapak-anak ini pun tidur di pos satpam, walaupun akhirnya mereka berhasil pindah ke kos-kosan dengan harga yang sangat murah. Selesai? Belum. Makan sepiring berdua ternyata bukan cuma ada di film dan video klip dangdut, tapi juga di kehidupan nyata! Karena keterbatasan dana, Bayu dan Bapaknya makan sepiring berdua. Bapaknya membiarkan Bayu makan terlebih dahulu, setelah kenyang, baru si Bapak makan sisanya. Jika kamu adalah manusia normal dan memiliki hati nurani, pasti kamu akan terharu kuadrat mendengar cerita ini. Jika tidak, saya sarankan kamu pergi ke psikolog dan memeriksakan kondisi kejiwaanmu.
Lain Bayu, lain pula cerita Fira yang berasal dari Depok. Fira datang ke Kudus bersama Ayahnya, Bapak Mustajab yang bekerja sebagai petugas kereta api. Kendala biaya juga dialami keluarga Fira, untungnya sang ayah mendapat fasilitas kereta gratis dari tempat kerjanya sehingga Ia bisa menghemat uang transport. Fira dan Bapaknya tinggal di kos-kosan sederhana di sekitar GOR Jati. Sama dengan ratusan anak lainnya, Fira pun datang ke Kudus dengan sejuta harapan. Berbekal gelar juara di daerah asalnya, Ia sebenarnya sudah lama meminta kepada orang tuanya untuk masuk klub bulutangkis di Jakarta, namun sekali lagi biaya menjadi benturan bagi mereka.
“Masuk klub di Jakarta itu biayanya mahal mbak, saya mana mampu, …. Yah semoga saja anak saya bisa masuk PB Djarum dan bisa jadi atlit bulutangkis yang sukses ya…” ujar Pak Mustajab sambil menerawang.
Pak Mustajab juga menceritakan kisah haru yang ia dengar dari beberapa peserta. Ada seorang anak dan bapaknya yang kurang mampu, datang dari Kalimantan dengan kapal laut yang perjalanannya menempuh waktu berhari-hari. Ternyata si anak kelelahan dan akhirnya jatuh sakit sehingga tidak bisa ikut audisi, dan bahkan harus dirawat di rumah sakit setempat. Sungguh disayangkan.
Di tengah pembicaraan kami, tiba-tiba Fira datang menghampiri Bapaknya dan mengatakan bahwa sebentar lagi akan diumumkan pemenang seleksi tahap 2.
“Ya semoga saja kamu menang ya…. Kalau memang rejeki mu ya nggak akan kemana nak” sang Bapak berusaha menenangkan Fira yang tampak tegang. Dan saya pun entah kenapa ikutan deg-deg serr menunggu pengumuman.
“Fira, daripada nervous mending maen bulutangkis sama kita yoook” ajak saya dan Titiw tanpa sadar sebentar lagi harga diri kami akan dilucuti oleh anak berusia 14 tahun ini. Buat Fira, melawan 2 orang dewasa yang bermain amatiran seperti kami adalah perkara kecil. Tanpa ba bi bu , Fira pun membantai kami dengan skor yang cukup telak. Padahal saya dan Titiw istilahnya sudah berusaha total abiss, baik dari teknik pukulan, footwork, bahkan gaya kami yang bak pemain dunia -wanna be, namun tetep aja, bocah ini dengan santai nya mengalahkan kami para wanita usia lanjut.
[caption id="attachment_290" align="aligncenter" width="337" caption="Fira sedang siap-siap serve ke lawan ‘ganda’ nya"]
Walau akirnya Fira dan Bayu tidak lolos seleksi, namun semangat juang mereka patut diacungi jempol. Tunggu dulu, tak hanya mereka, orangtuanya pun patut diacungi jempol bahkan sepuluh jempol. Ditengah apatisme masyarakat pada prestasi bulutangkis Indonesia, para orangtua ini masih memiliki kerpercayaan bahwa anak-anak mereka suatu saat nanti akan menjadi bintang bulutangkis dan mengharumkan nama Indonesia.
Pulang dari Kudus, saya tak hanya membawa cerita seputar bibit bulutangkis muda, namun juga sejuta pesan moral yang akan aku kumandangkan ke penjuru langit dan bumi.
dr cerita yg gw baca di blog nya Widya, ada hal yg bikin gw bangga sekaligus miris...yaitu bahwa jiwa nasionalisme para orang tua khususnya di daerah ternyata tuh msh sangat kental dan mereka mendukung sekali utk jadi atlet INDONESIA!!
ReplyDeletebuat gw itu sesuatu yg admireable dan bener2 "way far from some people opinion whose come from big cities in Indonesia"...namun yg bikin mirisnya itu kalo pemikiran utk menjadi nasionalis khususnya buat org2 kota itu datang setelah adanya "ad hoc event" yg sering terjadi di Jakarta contohnya piala asia, thomas cup or event2 lain yg berkaitan dgn nasionalis kita sbg bangsa Indonesia.
apa yg ditulis temen gw ini, bentuk dr kesadaran awal kita utk lbh sadar dlm bernasionalisasi dan salah satu cara yg bisa diwujudkan adalah dgn lbh sering mengekspos kegiatan2 temen2 kita didaerah sehubungan dgn olahraga bulutangkis or anything...dibanding dgn cerita2 gosip or news yg kadang hanya menjadi pemanis dlm pembicaraan org2 kota!! itu sampah dan manipulasi dlm pemikiran kita utk mewujudkan bangsa INDONESIA yg lbh kompeten!
gw agree dgn Widya bahwa kita sbg calon ortu wajib mengajarkan sesuatu yg berhubungan dgn INDONESIA dgn tujuan simple agar budaya gotong royong kita tdk hilang....salut buat ortu2 di daerah yg msh mendambakan anaknya jadi atlet utk membela Garuda kita.
Salam satu Indonesia utk semua
Sungguh membanggakan baca tulisan ini...masih ada ya orang2 yang mempunyai nilai-nilai nasionalisme yang kuat kepada republik ini.......dari tulisan ini, kita bisa mencontoh bagaimana menyalurkan nilai2 nasionalisme kita terhadap republik ini tanpa harus menggunakan kekerasan,kekesalan terhadap negara lain...
ReplyDeleteSAYA BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA.....
salam olagraga.........
MERDEKAAAAA!!!!!
ReplyDeleteLuar biasa nih Pak Roland, sungguh besar yah kepedulian loe sama prestasi olahraga bangsa ini....
Tetep kasih masukan terus yah, semoga olahraga Indonesia makin maju, dan semoga orang-orang seperti kita makin banyak di Indonesia :P
Btw ngeblog juga dong, ditunggu lho ..... hihihihi.....
iya, hari gini masih ada juga yah yang cita-citanya jadi pahlawan pembela nama Indonesia... hiks , jadi terharu...
ReplyDeleteTerharu, menyeka air mata, padahal lagi puasa. (batal ga ya?)
ReplyDeleteSalut untuk orang tua yang sudah mau bersusah payah memperjuangkan anaknya untuk mengikuti audisi bulu tangkis ini, dan dengan jiwa nasionalisme mereka berupaya mengharumkan nama INDONESIA.
Jangan hanya menggebu2kan para artis dan pejabat serta sosialita Indonesia saja. Sorotlah orang - orang diatas, yang berjuang demi nama INDONESIA.
Dukunglah bibit - bibit atlet kita, jiwa nasionalisme sejati kita, harap menjadi bahan tinjauan.
Tujuannya tidak lain adalah demi bangsa dan negara INDONESIA.
Salam Olahraga !!
Huaaaa, Debby juga nggak kalah semangatnya nih!!!
ReplyDeleteSetujuuuuh, pemerintah lirik dikit dong mereka-mereka ini yang udah mengharumkan nama Indonesia di dunia...... :D :D
Gileee.. komennya pak roland di atas ini super saya acungkan jempol! Sangat mewakili pikiran saya banget soalnyaa!! :D
ReplyDeleteSalam Kenal dariku, nice artikel :D Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin :D
ReplyDeleteSalam kenal juga ya Yohan :D
ReplyDeleteThanks ya udah baca artikel nya, ditunggu yah postingan ku selanjutnya....semoga berkenan di mata pembaca *sok penulis tenar*
Wah,,, enak banget ya.. :-) saya sih gak terlalu jago main badminton, tapi di sekolahan pernah juara juga,, hehehehhe... :-D
ReplyDeleteHmm.. minimal pernah maen maen ke GOR Djarum, terus foto2 juga.. :-) hihihihi...
saya juga gak jago maen nya, dan ga pernah juara pulak! :P
ReplyDeletetapi tetep cintaah sama badminton kan ? :)
Reblogged this on Nurul Atifah Abbas and commented:
ReplyDeleteTERHARU !